Sabtu, 13 April 2013

Kedengkian penghapus pahala kebaikan

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (Qs. Albaqoroh ;109)

"Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. AL-BAQARAH; 109)

Perhatikan juga sabda Rasulullah SAW yang lainnya, Rasulullah SAW. Bersabda: “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).


Kedengkian menurut bahasa: حَسَدَ يَحْسِدُ وَيَحْسُدُ adalah kedengkian, iri hati
secara istilah hasad adalah كراهة النعمة وحب زوالها عن المنعم عليه membenci nikmat dan menginginkan nikmat tersebut hilang.



Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu.

Sungguh merugilah orang yang didalam hatinya mempunyai sifat dengki, secara tidak sadar orang yang dengki itu menghapus pahala-pahala amal kebaikannya sendiri sedikit demi sedikit.

Seperti halnya seseorang yang memenuhi air ke dalam sebuah wadah yang bocor yang akan digunakannya untuk keperluan sehari-hari, kemudian ia membawa wadah tersebut pulang kerumahnya dalam jarak yang jauh, namun sesampainya dirumah ia tidak menemukan air didalam wadahnya karena habis terjatuh di sepanjang perjalanannya menuju pulang.

Itulah gambaran amalan seorang pedengki ia kelak tidak akan merasakan nikmat dari pahala kebaikannya atas kedengkiannya kepada orang lain. 

Jangan sampai atas kedengkiannya itu menjadikannya seorang yang bangkrut, seperti Hadits yang diriwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu , ia berkata :
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: "Tahukah kalian siapakah yang dinamakan Muflis (Orang yang bangkrut) ? . Orang-orang menjawab : Orang yang bangkrut menurut pendapat kami ialah orang yang tiada mempunyai dirham (uang) dan tiada pula mempunyai harta benda. Nabi bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku, datang pada hari kiamat dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat. Dia datang sedang dahulu pernah mencaci maki orang , menuduh (mencemarkan nama baik) orang , memakan harta orang , menumpahkan darah orang  dan memukul orang . Maka kepada orang tempat dia bersalah itu diberikan pahala amal baiknya dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baiknya. Apabila amal baiknya telah habis sebelum hutangnya lunas Maka diambillah kesalahan mereka lalu dilemparkan kepadanya. Sesudah itu dia dilemparkan ke dalam neraka". (HR. Muslim)
Wallahu'alam wasta'an 

Rabu, 10 April 2013

Amanah lahir dari konsistensi amal

وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya," (QS Al-Mu'minuun [23]: 8)

Rasulullah saw bersabda dalam hadits nya;
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban. Seorang imam (kepala negara/pejabat) adalah pemimpin dan dia akan diminta pertanggungjawaban. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban. Seorang isteri adalah pemimpin yang mengurus rumah suaminya dan dia akan diminta pertanggungjawaban. Seorang hamba sahaya (juga) pemimpin atas harta majikannya dan dia akan diminta pertanggungjawaban. Ingatlah, sesungguhnya setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban," (HR Bukhari no. 5188 dan Muslim no. 4828 dengan sedikit ada perbedaan pada versi lafazhnya).

Kata amanah dalam bahasa Arab berasal dari amina ya'manu amaanan wa amaanah yang berari ithmi'nan (tenang) dan tidak takut. Karena amanah itu menunjukkan tsiqah (kepercayaan) dan tsiqah itu merupakan ketenangan.Jadi orang yang amanah, yaitu orang yang dipercaya dan tenang, serta tidak pernah khawatir dan takut.

Amanah dapat dilihat dari konsistensi amal seseorang (istiqomah) yang di bebankan kepadanya, Cukuplah seseorang itu dikatakan amanah jika ia mampu membuat ketenangan kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Buah dari amanah yaitu rasa aman yang dapat dirasakan bahkan dinikmati oleh orang yang memperolehnya, dan rasa aman yang dirasakannya sendiri atas tuntasnya pekerjaan yang telah di kerjakannya.

Seperti seorang suami yang memberikan kewajibannya kepada istrinya, seorang ibu yang memberikan pengajaran kepada anak-anaknya, seorang guru yang memberikan pendidikan kepada murid-muridnya seorang pemimpin yang memberikan pelayanan kepada rakyatnya, mereka yang mampu menjalankan amanah itu dapat memberikan rasa aman dan ketenangan kepada orang lain dan dirinya sendiri.

Seperti halnya seekor lebah yang menghasilkan madunya, seekor kerang yang menghasilkan mutiaranya, sebuah tunas yang menghasilkan buahnya,semuanya itu dihasilkan dari amaliah yang dilakukan terus menerus/konsistensi/istiqomah untuk mendapatkan hasil yang sangat bermanfaat bagi orang lain bahkan dirinya sendiri. Merekalah yang dikatakan Nabi saw dalam haditsnya;
"sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Muslim).
Wallahu'alam bisshowab.

Selasa, 09 April 2013

Yang tersembunyi itu bernama "prasangka"

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa. ” (Al-Hujurat: 12)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini. ” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian. ” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni, maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, ‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut’. ” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)

Berprasangka itu adalah suatu perbuatan yang belum tentu kebenarannya. jika belum tentu benar apa yang disangkakannya itu maka itu adalah sedusta-dusta perkataan yang menyebabkan dosa, yang dihembuskan syetan dan hawa nafsunya belaka, namun jika prasangka itu lahir dari sebuah perbuatan buruk yang sengaja diperlihatkan oleh seseorang, maka boleh kita berprasangka buruk kepadanya.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek. (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, 16/218)

Karenanya, Ibnu Hubairah Al-Wazir Al-Hanbali berkata, “Demi Allah, tidak halal berbaik sangka kepada orang yang menolak kebenaran, tidak pula kepada orang yang menyelisihi syariat. ” (Al-Adabus Syar’iyyah, 1/70)

Wallahu'alam was ta'an...

Minggu, 07 April 2013

Sillaturrohim sumber kekuatan

1.Pengertian Shilah
Shilah berasal dari kata washala, yashilu washlan,shilatan.
 
Dalam kamus al-Munawir hlm 1563 disebutkanbeberapa makna shilah yaitu sebagai berikut
Shilah mengandung arti memberikan, mepersembahkan.
 
Al-Washul artinya orang yang banyak memberi.
 
2. Secara bahasa kalimat Rahim adalah tempat tumbuhnya janin-bayi- dalam perut seorang ibu, kemudian kalimat rahim itu digunakan kepada saudara atau kerabat, yaitu mereka yang memiliki hubungan nasab, baik itu termasuk ahli waris atau tidak juga termasuk mahram (yang haram dinikah atau tidak).
 
Makna silaturahim adalah menyambungkan rahim, lawan dari memutuskan atau meninggalkan.
 
Ibnu Atsir berkata : Silaturahim adalah kinayah dari berbuat baik kepada kerabat dekat yang memiliki hubungan nasab atau pernikahan, menyayangi mereka, bersikap lemah lembut dan selalu memperhatikan keadaan mereka.
 
Begitu indahnya silaturahim dengannya kita dapat bertemu, bertegur sapa, berinteraksi, berdiskusi, yang akhirnya dapat mengokohkan tali kekuatan kasih sayang diantara kita.
 
Bagaikan bangunan yang kokoh kita adalah penguat bangunan silaturahim itu dengan keberadaan kita didalamnya. 
 
Seperti keberadaan bangunan dengan pilar-pilarnya, roda sepeda dengan jari-jarinya, tangga dengan anak-anak tangganya, kepala dengan anggota-anggota tubuhnya dst, saling melengkapi serta menguatkan satu dengan yang lainnya. 
 
Dalam sebuah hadis diungkapkan,
"Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" 
(HR Bukhari Muslim).

Ketika umur seseorang dipanjangkan, dan rezekinya diluaskan maka semakin kuatlah pijakan silaturrahim yang dibangunnya, seperti seorang penjual dengan pembelinya, seorang guru dengan muridnya, seorang imam dengan makmumnya, ketika umur mereka dipanjangkan maka semakin baiklah urusan-urusan mereka didalamnya, dan ketika rezeki mereka diluaskan maka semakin nyamanlah kehidupan mereka, dan itulah yang membuat mereka kuat dalam lingkarannya.
Raihlah kekuatan silaturrohim didalamnya.
 

Kamis, 04 April 2013

Senioritas cermin sebuah kesombongan


:عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَّلَم
 .لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
.قَفَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً
 .قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Tidak akan masuk surga orang-orang yang di dalam hatinya ada kesombongan, walaupun sekecil biji dzarah”. Kemudian berkata seorang laki-laki: ”Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan sandalnya bagus.” (maksud lelaki ini mempertanyakan apakah yang demikian termasuk sombong). Maka bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Indah dan mencintai keindahan. Yang sombong itu adalah menentang kebenaran serta merendahkan manusia.” (Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala).

Perasaan senioritas merendahkan orang lain. Ia adalah buah dari kesombongan dan petaka kehancuran atas orang yang memilikinya. dan sifat ini juga dimiliki oleh Iblis laknatullah 'alaih ketika ia berseru kepada Allah atas nabi Adam as. 
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah" (Qs. Shaad: 76).
Perkataan iblis ini mempunyai arti aku lebih tua dari Adam, aku lebih berpengalaman dari Adam, aku lebih tau dari Adam, aku lebih bagus dari Adam, aku lebih senioritas dari Adam, dst. inilah awal ketetapan Iblis menjadi mahluk yang terlaknat. Kemudian Allah azza wa jalla berfirman:
Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk (Qs. Shaad: 77).
Begitu besar murka Allah kepada Iblis, ini berarti juga kepada orang-orang yang sombong, kepada orang-orang yang merendahkan orang lain, yang mempunyai perasaan senior terhadap orang lain, dst.

Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: إِنَّ الْعِزَّ إِزَارِيْ وَالْكِبْرِيَاءَ رِدَائِيْ فَمَنْ نَازِعُنِيْ فِيْهِمَا عَذَّبْتُهُ. (رواه الطبراني)
Sesunguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan sombong adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang mengambilnya dariku, Aku Adzab dia. (HR. Thobaroni).
Wallahu'alam wasta'an...
fastaghfiruu innahuu huwalghofuururrohiim....

Rabu, 03 April 2013

Meraih buah keikhlasan

Menurut bahasa Arab ikhlash (الإخلاص) berasal dari kata خَلَصَ خُلوصـــــــاً ، وخلاصاًyang berarti bersih dan hilang kotorannya. Kalimat أخلص الشيء  berarti membersihkannya dari cacatnya. Perbuatan yang dibersihkan dinamakan ikhlash

Allah SWT berfirman : 
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus".(QS. 98 : 5 )

Keikhlasan adalah syarat diterimanya amal seseorang.
Rasululloh Bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang murni untuk-Nya dan dalam rangka mencari Ridlonya.” (HR. Nasai) Dalam hadis yang lain Rasululloh bersabda:“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan segala sesuatu itu tergantung dengan apa yang diniatkan, barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah itu untuk Allah dan rasulnya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang akan dinikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diinginkan.”   ( HR. Bukhori)

Keikhlasan lahir dari sebuah pengorbanan, dan keikhlasan itu perlu sebuah perlawanan dan sebuah pengorbanan yang terus menerus sampai kita mendapatkan kenikmatan dari buahnya.

Keikhlasan juga diwarnai oleh suatu ujian, jika keikhlasan kita ternoda oleh nila setitik maka rusaklah amaliah kita sebelanga. 

Keikhlasan selalu diliputi oleh rasa ketakutan, kekhwatiran, kesempitan, semua rasa yang selalu meliputi hati kita dari waktu ke waktu hari ke hari bulan ke bulan serta tahun ke tahun sampai kita berjumpa dengan kematian.

Itulah hakikat keikhlasan ia tidak didapat dengan mudah, dan ia lahir dalam sebuah perlawanan dan sebuah pengorbanan untuk mendapatkannya bagaikan berjalan diatas jalan yang penuh duri, haruslah setiap orang yang melintasinya  berhati-hati diatasnya jika tidak ia akan tertusuk oleh durinya.
Belajarlah meraih buah keikhlasan....
  

Selasa, 02 April 2013

SIHIR ADALAH SUATU KEMUSYRIKAN YANG NYATA


Sekarang banyak orang membicarakan masalah sihir, namun banyak pula orang yang tidak percaya akan adanya sihir, bagaimana kita bersikap sebagai seorang mukmin?

Makna Sihir
Sihir dalam bahasa Arab tersusun dari huruf
 ر, ح, س (siin, kha, dan ra), yang secara bahasa bermakna segala sesuatu yang sebabnya nampak samar. Oleh karenanya kita mengenal istilah ‘waktu sahur’ yang memiliki akar kata yang sama, yaitu siin, kha dan ra, yang artinya waktu ketika segala sesuatu nampak samar dan “remang-remang”.

Seorang pakar bahasa, Al Azhari mengatakan, “Akar kata sihir maknanya adalah memalingkan sesuatu dari hakikatnya. Maka ketika ada seorang menampakkan keburukan dengan tampilan kebaikan dan menampilkan sesuatu dalam tampilan yang tidak senyatanya maka dikatakan dia telah menyihir sesuatu”

Para ulama memiliki pendapat yang beraneka ragam dalam memaknai kata ‘sihir’ secara istilah. Sebagian ulama mengatakan bahwa sihir adalah benar-benar terjadi ‘riil’, dan memiliki hakikat. Artinya, sihir memiliki pengaruh yang benar-benar terjadi dan dirasakan oleh orang yang terkena sihir. Ibnul Qudamah rahimahullah mengatakanSihir adalah jampi atau mantra yang memberikan pengaruh baik secara zhohir maupun batin, semisal membuat orang lain menjadi sakit, atau bahkan membunuhnya, memisahkan pasangan suami istri, atau membuat istri orang lain mencintai dirinya (pelet-pent)”.
Namun ada ulama lain yang menjelaskan bahwa sihir hanyalah pengelabuan dan tipuan mata semata, tanpa ada hakikatnya. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakr Ar Rozi, “(Sihir) adalah segala sesuatu yang sebabnya samar dan bersifat mengalabui, tanpa adanya hakikat, dan terjadi sebagaimana muslihat dan tipu daya semata.”

Hukum “Main-Main” dengan Sihir
Sihir termasuk dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dari kalian tujuh perkara yang membinasakan! Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apakah tujuh perkara tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, [1]menyekutukan Allah, [2]sihir, [3]membunuh seorang yang Allah haramkan untuk dibunuh, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, [4]mengkonsumsi riba, [5]memakan harta anak yatim, [6]kabur ketika di medan perang, dan [7]menuduh perempuan baik-baik dengan tuduhan zina” (HR. Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah)

Kafirkah Tukang Sihir?
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Nabi Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi para syaitan lah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (Al Baqarah : 102)
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berdalil dengan ayat di atas untuk menegaskan bahwa orang yang mempraktekkan ilmu sihir, maka dia telah kafir. Karena tidaklah para syaitan mengajarkan sihir kepada manusia melainkan dengan tujuan agar manusia menyekutukan Allah ta’ala.
Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu sihir dapat dikategorikan sebagai kesyirikan dari dua sisi.

[Pertama] orang yang mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang meminta bantuan kepada para syaitan dari kalangan jin untuk melancarkan aksinya, dan betapa banyak orang yang terikat kontrak perjanjian dengan para syaitan tersebut akhirnya menyandarkan hati kepada mereka, mencintai mereka, ber-taqarrub kepada mereka, atau bahkan sampai rela memenuhi keinginan-keinginan mereka.

[Keduaorang yang mempelajari dan mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib. Dia telah berbuat kesyirikan kepada Allah dalam pengakuannya tersebut (syirik dalam rububiyah Allah), karena tidak ada yang mengetahui perkara ghaib melainkan hanya Allah ta’ala semata.
Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah merinci bahwa orang yang mempraktekkan sihir, bisa jadi orang tersebut kafir, keluar dari Islam, dan bisa jadi orang tersebut tidak kafir meskipun dengan perbuatannya tersebut dia telah melakukan dosa besar.

[PertamaTukang sihir yang mempraktekkan sihir dengan memperkerjakan tentara-tentara syaitan, yang pada akhirnya orang tersebut bergantung kepada syaitan, ber-taqarrub kepada mereka atau bahkan sampai menyembah mereka. Maka yang demikian tidak diragukan tentang kafirnya perbuatan semacam ini.

[Kedua] Adapun orang yang mempraktekkan sihir tanpa bantuan syaitan, melainkan dengan obat-obatan berupa tanaman ataupun zat kimia, maka sihir yang semacam ini tidak dikategorikan sebagai kekafiran.

Hukuman Bagi Tukang Sihir
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika, di akhir kekhalifahan beliau, mengirimkan surat kepada para gubernur, sebagaimana yang dikatakan oleh Bajalah bin ‘Abadah radhiyallahu ‘anhu, “Umar bin Khattab menulis surat (yang berbunyi): ‘Hendaklah kalian (para pemerintah gubernur) membunuh para tukang sihir, baik laki-laki ataupun perempuan’”.
Dalam kisah Umar radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan pelajaran bagi kita, bahwa hukuman bagi tukang sihir dan ‘antek-antek’-nya adalah hukuman mati. Terlebih lagi terdapat sebuah riwayat, meskipun riwayat tersebut diperselisihkan oleh para ulama tentang status ke-shahihan-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang”
Dalam kisah Umar di atas pun juga memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa menjadi kewajiban pemerintah tatkala melihat benih-benih kekufuran, hendaklah pemerintah menjadi barisan nomor satu dalam memerangi kekufuran tersebut dan memperingatkan masyarakat tentang bahayanya kekufuran tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Allahu A’laam.